IDEN
IDEN

Konservasi Mangrove

Yayasan KEHATI bersama berbagai mitra lokal terus mendorong upaya pemulihan ekosistem pesisir melalui program rehabilitasi dan restorasi mangrove di berbagai daerah Indonesia. Setiap wilayah memiliki karakter dan tantangan tersendiri, namun semuanya berkontribusi pada satu tujuan besar: menjaga ekosistem pesisir sebagai benteng alami dan sumber penghidupan masyarakat.

  • Pekalongan Jawa Tengah

Program restorasi mangrove difokuskan di Kecamatan Wonokerto yang selama satu dekade terakhir terdampak parah oleh banjir rob akibat alih fungsi lahan pesisir. Bersama Komunitas Peduli Wonokerto (KPW), KEHATI memfasilitasi pelatihan teknis, studi tiru, serta aksi penanaman 10.500 bibit Avicennia dan Rhizophora di area tambak dan sungai seluas 1,5 hektare. Meski menghadapi tantangan banjir rob dan arus kuat, KPW tetap melakukan penyulaman dan perawatan bibit. Selain itu, masyarakat juga mulai menyusun Peraturan Desa tentang Perlindungan Mangrove, langkah awal menuju tata kelola berbasis komunitas yang berkelanjutan.

  • Pesisir Lantebung, Kota Makassar

KEHATI bermitra dengan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia untuk merehabilitasi dua hektare kawasan mangrove terakhir di kota tersebut. Melalui metode Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR), YKL menanam lebih dari 20.000 bibit dari berbagai jenis seperti Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, dan Avicennia officinalis. Program ini tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga memperkuat kapasitas 15 pegiat mangrove dan dua kelompok pemuda lokal (IKAL dan JEKOMALA) yang kini mengelola kawasan sebagai ruang belajar dan ekowisata. Walau sempat menurun akibat cuaca ekstrem, kehadiran bibit rekrutmen alami menjadi penanda keberhasilan proses rehabilitasi ekologis yang berkelanjutan.

  • Pandeglang Banten

Kegiatan Mangrove Blue Carbon menjadi contoh sinergi antara konservasi, ekonomi, dan riset ilmiah. Dengan dukungan PT Asahimas Chemical, Yayasan Lestari Alam Kita (SALAKA), dan Jurusan Perikanan Universitas Tirtayasa, program ini menargetkan rehabilitasi 14 hektar hingga tahun 2026. Hingga pertengahan 2024, lebih dari 80.000 bibit ditanam di lima desa pesisir Selat Sunda. Kemudian berkolaborasi Bersama Open Mapping Hub - Asia Pasifik (AP Hub) berkolaborasi dalam mendesain pemantauan mangrove partisipatif dengan mengintegrasikan teknologi, perangkat, dan data pemetaan terbuka yang dapat di akses semua pihak melalui Gadget.

Selain rehabilitasi, masyarakat dilatih mengolah potensi lokal seperti keripik jeruju dan garam herbal spa yang bernilai ekonomi tinggi. Hasil riset Universitas Sultan Ageng Tirtrayasa (UNTIRTA) menunjukkan kedua produk tersebut memiliki kualitas baik dan potensi pasar menjanjikan. Upaya teknis lainnya berupa Pengolahan sampah menjadi Paving Blok sebagai solusi tingginya sampah yang menggangu pertumbuhan mangrove dan desain perbaikan Alat Pemecah Ombak (APO) meningkatkan keberhasilan tumbuh mangrove.

Ketiga program ini mencerminkan pendekatan holistik KEHATI dalam menjaga pesisir Indonesia, yaitu memulihkan ekosistem, memberdayakan masyarakat, memperkuat pengetahuan lokal, dan memperluas manfaat ekonomi. Mangrove bukan sekadar pohon penahan abrasi, tetapi simbol ketahanan dan harapan bagi kehidupan pesisir yang berkelanjutan.

Mitra:

  1. Komunitas Peduli Wonokerto (KPW)

  2. Yayasan Konservasi Laut Indonesia (YKL) – Indonesia

  3. Yayasan Lestari Alam Kita (SALAKA)

  4. Jurusan Perikanan UNTIRTA