
Pagi itu di Desa Ubedolumolo I, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, udara turun pelan dari perbukitan yang dipenuhi hijau bambu. Di tanah Ngada, bambu bukan sekadar tanaman. Ia adalah penanda martabat sekaligus ukuran kesejahteraan sebuah keluarga. Bambu adalah “harta” yang diwariskan.
Di tengah lingkaran diskusi 25 warga dan anggota kelompok tani, aroma kopi hangat bercampur dengan rebusan rebung, pisang, kacang, dan ubi. Mereka duduk di bawah atap sederhana, saling berdiskusi tentang upaya-upaya pelestarian bambu di Ngada.
Hendrikus Wika—akrab disapa Om Boby—ketua kelompok tani setempat , mengatakan, dalam tradisi adat Ngada yang bambu adalah harta kekayaan yang diwariskan. Masyarakat adat yang menganut sistem matrilineal, mewariskan bambu kepada Perempuan. Setelah menikah, laki-laki akan tinggal di rumah keluarga istri. Perempuanlah yang menetap di rumah pokok, meneruskan garis keturunan, dan memegang hak atas warisan, termasuk mewarisi rumpun bambu.
Dari sinilah lahir sebutan “Mama Bambu”, yaitu para perempuan penjaga warisan rumpun bambu yang akan merawat rumpun-rumpun bambu. Bambu tidak hanya untuk dimanfaatkan hari ini, tetapi juga diwariskan lagi kepada generasi berikutnya.

“Kekayaan orang Bajawa dinilai dari berapa luasan rumpun bambu yang dimiliki keluarganya,” tutur Hendrikus Wika—akrab disapa Om Boby—ketua kelompok tani setempat. “Rumpun bambu itu masa depan anak cucu.”
Namun menjaga warisan bukan tanpa tantangan. Lahan di desa tersebut banyak yang gersang, cadas, dan berbatu. Hampir separuhnya sempat menjadi lahan tidur atau lahan yang tidak tergarap atau tidak produktif. Di tengah keterbatasan ekonomi dan tenaga, sebagian warga hanya bisa memandang tanah itu sebagai beban yang belum mampu mereka kelola.
Harapan mulai tumbuh ketika Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bersama Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) dan CIMB Niaga hadir untuk mendukung masyarakat dan menyasar kelompok mama-mama bambu. Bagi Om Boby dan warga, program ini dianggap selaras dengan akar budaya mereka.
“Saat ada program bambu kami lalu membentuk kelompok mama-mama bambu, itu selaras dengan budaya kami orang Bajawa yang menjaga warisan di rumah pokok. Daripada lahan tidur ini mubazir, lebih baik kami kembangkan,” ujarnya.
Sejauh ini, sekitar 90 hektar lahan tidur mulai dihidupkan kembali. Lebih dari 19.000 anakan bambu telah ditanam. Angka-angka itu bukan sekadar statistik; di baliknya ada tangan-tangan perempuan yang menanam dengan keyakinan bahwa setiap tunas adalah tambahan warisan bagi anak cucu mereka.
Margaretha Loda—Mama Retha—adalah salah satunya. Ia bercerita tentang pelatihan irigasi tetes yang menyertai program penanaman. Di tanah yang mudah kering saat kemarau, air menjadi penentu hidup dan mati tanaman. “Irigasi tetes kami pakai di persemaian dan juga di lahan. Supaya kadar air tetap terjaga. Jadi tidak perlu terus-menerus menyiram manual,” katanya.
Bagi Mama Retha dan kelompoknya, bambu kini bukan hanya simbol adat, tetapi juga jalan menuju kemandirian. Lahan yang dulu diam, perlahan berdenyut kembali. Tradisi yang sempat terancam oleh keterbatasan ekonomi, kini menemukan nafas baru melalui pendekatan yang menghormati budaya sekaligus menguatkan kesejahteraan.
Di ujung perbincangan, Om Boby menyampaikan harapan sederhana namun dalam. “Dengan segala keterbatasan, kami tidak mampu berjalan sendiri. Jangan tinggalkan kami sampai 50 persen lahan ini selesai dikelola. Dukungan ini membuat kami bisa berjalan beriringan.”
Di Ngada, bambu memang tumbuh perlahan. Tetapi bersama para Mama Bambu, ia sedang menumbuhkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rumpun—ia menumbuhkan harapan, keberlanjutan, dan masa depan yang berakar kuat di tanah sendiri.
(Sumber : Yayasan Bambu Lingkungan Lestari)
© 2025 All Right Reserved