
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, kolaborasi antara Hotel Borobudur dan Yayasan KEHATI mengungkap fakta mengejutkan: taman hotel di pusat ibu kota ternyata menjadi rumah bagi satwa liar langka dan burung dilindungi. Kegiatan “Capnature” ini menegaskan bahwa konservasi bisa dimulai dari mana saja — bahkan dari ruang hijau korporasi di tengah kota.
Capnature atau Capture Nature merupakan kegiatan rutin yang diadakan Biodiversity Warriors KEHATI setiap tahun. Kegiatan ini bertujuan mendata satwa liar yang ada di area perkotaan, termasuk burung.
Tahun ini Capnature menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan edukasi dan konservasi bertajuk “Discover The Natural Treasure” yang digagas Hotel Borobudur Jakarta. Melalui kegiatan itu Hotel Borobudur berkomitmen untuk ikut melestarikan lingkungan perkotaan Jakarta.
Manajer Hubungan Masyarakat dan Edukasi Yayasan KEHATI, Muhammad Syarifullah, mengatakan, keterlibatan sebuah korporasi besar sekelas Hotel Borobudur dalam kegiatan konservasi di Indonesia adalah hal yang sangat diapresiasi dan bukan merupakan langkah kecil. Hal ini menjadi kehormatan bagi KEHATI untuk dapat berbagi wawasan mengenai keanekaragaman hayati Indonesia di lingkungan korporat.
Penelusuran satwa liar yang melibatkan beberapa karyawan Hotel Borobudur, dipandu oleh Ahmad Baihaqi, Fasilitator Capnature dan Haris Zakian Husein, Koordinator BW KEHATI. Kegiatan dimulai sejak pukul 06:30. Waktu ini dipilih karena merupakan jam aktif bagi sebagian besar burung, yaitu antara pukul 06:00 hingga 09:00, dan sore hari antara pukul 15:00 hingga 18:00, saat burung kembali ke sarang.
Temuan Penting Betet Jawa
Meskipun pengamatan dilakukan secara cepat dan terbatas, tim KEHATI berhasil mendata keberadaan satwa liar di kawasan Hotel Borobudur. Temuan ini mencakup beberapa kelompok taksa, yaitu burung, herpetofauna (reptil dan amfibi), kupu-kupu, dan capung.
Menurut Baihaqi, hal yang paling mencuri perhatian adalah temuan dari kelompok burung. Total 13 jenis burung berhasil diidentifikasi di lingkungan hotel. Dari jumlah tersebut, penemuan Burung Betet Biasa atau Betet Jawa (Psittacula alexandri) menjadi sorotan utama.
Status konservasi Betet Jawa sangat penting karena burung ini termasuk jenis yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang dan Permen LHK di Indonesia. Kehadiran spesies yang dilindungi di suatu area secara otomatis menjadikannya area bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV).
Selain itu, berdasarkan lembaga global IUCN (International Union for Conservation of Nature), Betet Biasa terdaftar dalam kategori Near Threatened (Hampir Terancam Punah). Bahkan, menurut Baihaqi, jumlah populasi burung Betet yang tercatat sementara sebanyak 6 ekor, diperkirakan mencapai 30 ekor.
Keberadaan ruang hijau Hotel Borobudur, yang berdekatan dengan Taman Lapangan Banteng, menjadikannya sebuah koridor (habitat koridor) yang sangat vital. Koridor ini menghubungkan daerah jelajah burung di Jakarta, seperti Monas, Taman Lapangan Banteng, dan Manggalawana Bakti.
Selain Betet Jawa, jenis burung lain yang ditemukan antara lain Punai Gading, Burung Madu Kelapa yang sangat suka mengisap nektar dari bunga kelapa di area hotel, Cabai Jawa dan Kepudang Burung Hitam yang populasinya banyak ditangkap dan diperjualbelikan. Ada juga temuan Burung Gereja yang merupakan alien species (spesies non-asli) dari Eropa yang tiba di Batavia pada masa VOC melalui kapal pengangkut biji-bijian.
Pentingnya Biodiversitas Perkotaan dan Peran Bio-Indikator
Capnature menegaskan pentingnya program Urban Biodiversity (Keanekaragaman Hayati Perkotaan) yang dijalankan oleh KEHATI. Keberadaan keanekaragaman hayati perkotaan semakin terancam mengingat saat ini lebih dari 56% populasi dunia hidup di perkotaan. Jumlah ini dipastikan akan meningkat hingga 70 persen, oleh karena itu menjaga keseimbangan ekosistem di kota adalah kunci bagi keberlangsungan hidup manusia.
Urban Biodiversity memberikan banyak manfaat jasa ekosistem, seperti tempat wisata, penyerap polusi, dan sumber air bersih. Dalam hal ini, Hotel Borobudur telah menjadi salah satu indikator Urban Biodiversity Jakarta dan diharapkan menjadi benchmark bagi korporasi dan hotel lain.
Penelusuran Capnature juga menjadi momentum untuk menyadarkan peserta akan tantangan lingkungan yang lebih besar, khususnya di Indonesia. Tantangan muncul dari kebijakan pembangunan yang mengabaikan lingkungan serta gaya hidup manusia. Sampah plastik dan sampah makanan, emisi gas buang, serta alih fungsi ruang terbuka hijau perkotaan menjadi tekanan yang paling berat bagi kehidupan di kota.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, aksi yang dimulai di lingkungan Hotel Borobudur diharapkan bisa didukung dengan langkah-langkah pribadi dan kolektif. Konsep konservasi tidak hanya berlaku di hutan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
© 2025 All Right Reserved