
oleh:
Silvia Hasan, S.Si., M.Si.
Fakultas Biologi dan Pertanian Universitas Nasional
Banjir bandang dan longsor yang terjadi di Sumatra akhir 2025 tidak hanya meninggalkan luka bagi masyarakat, tetapi juga bagi hutan dan satwa yang hidup di dalamnya. Salah satu yang terdampak adalah Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies orangutan yang hanya ditemukan di Ekosistem Batang Toru. Bencana ini menjadi pengingat bahwa masa depan mereka sangat bergantung pada kemampuan kita untuk menjaga hutan dan orangutan.
Sejak November 2017, orangutan yang dianggap sebagai bagian dari Orangutan Sumatra yang hidup terisolasi di Ekosistem Batang Toru diketahui memiliki karakteristik yang berbeda. Selanjutnya ditetapkan sebagai spesies terpisah dari orangutan Sumatra, yaitu orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Penemuan ini menjadi kebanggaan bagi Indonesia, sekaligus menghadirkan tanggung jawab besar. Diantara tiga spesies orangutan yang masih bertahan di Indonesia, orangutan Tapanuli memiliki jumlah yang paling sedikit di alam liar. Mereka memiliki peran yang sangat penting sebagai umbrella species atau spesies payung yang melindungi spesies lainnya, serta sebagai penyebar biji yang membentuk proses regenerasi hutan secara alami, sehingga menjaga hutan tetap lestari. Keberadaan orangutan Tapanuli mengingatkan bahwa kekayaan hayati Indonesia tidak selalu hadir dalam jumlah yang melimpah. Ada spesies yang hanya bertahan di ruang hidup terbatas dan tidak memiliki tempat lain untuk berpindah ketika habitatnya terganggu.
Ketika hutan dan penghuninya sama-sama terluka
Persoalannya bukan hanya kondisi hutan yang terganggu. Habitat orangutan Tapanuli sebelum bencana sudah mengalami fragmentasi, terutama antara Blok Barat dan Blok Timur. Bagi satwa yang bergantung pada tajuk pohon, terputusnya tajuk di hutan berarti memutus jalur pergerakan mereka untuk mencari pakan, berpindah, dan bereproduksi.
Hutan Batang Toru merupakan habitat orangutan Tapanuli serta menjadi penyangga kehidupan masyarakat di sekitarnya, terutama berperan vital sebagai sumber air. Sebagian masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada hasil kebun dan hutan, seperti durian, sayuran, rempah, serta komoditas lainnya. Kondisi ini mendukung pentingnya hutan batang toru dari sisi ekologis maupun ekonomi, yang tidak dapat dipisahkan karena menjadi ruang hidup bersama bagi manusia dan satwa.
Bencana pada akhir tahun 2025 memperlihatkan hubungan yang erat antara hutan, manusia, dan satwa, terutama orangutan Tapanuli. Sebagian besar kerusakan hutan menyebabkan orangutan kehilangan sumber pakan, dan citra satelit memperlihatkan bahwa bekas longsoran serta kerusakan hutan telah memutus jalur pergerakan dan tempat berlindung mereka. Ketika orangutan tidak mampu bertahan, kondisi ini dapat menjadi tanda bahwa daya dukung hutan bagi kehidupan menjadi tidak stabil.
Pada saat yang sama, manusia juga kehilangan rumah, sumber makanan, mata pencaharian, dan bahkan sebagian kehilangan keluarganya. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keduanya sama-sama menjadi korban, karena bergantung pada ruang dan hutan yang sama.
Oleh karena itu, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah, jalan, dan fasilitas lainnya. Fungsi ekologis hutan juga perlu dipulihkan, terutama dengan menghubungkan kembali habitat yang terfragmentasi dan memastikan Orangutan Tapanuli masih memiliki ruang untuk bertahan hidup. Hilangnya orangutan berarti hutan kehilangan salah satu penyebar biji penting yang membantu proses regenerasi, dan pada akhirnya manusia pun berisiko kehilangan mata pencahariannya yang diberikan oleh hutan.
Dari peta kerusakan menuju jembatan kehidupan
Kondisi seperti ini semakin mengkhawatirkan ketika pemetaan pascabencana menunjukkan sekitar + 8.000 hektare habitat orangutan Tapanuli terdampak. Angka ini bukan sekadar data tentang kerusakan tutupan lahan. Bagi spesies dengan populasi yang sangat kecil dan habitat yang terbatas, kehilangan ribuan hektare ruang hidup merupakan peringatan bahwa satu peristiwa ekstrem dapat membawa konsekuensi besar bagi kelangsungan populasinya. Jika orangutan kehilangan ruang hidupnya, berbagai fungsi ekologis hutan dan kehidupan lain, termasuk mata pencaharian masyarakat, ikut terancam.
Pemulihan harus dimulai dengan mengetahui bagian hutan mana yang paling prioritas dan paling terdampak. Kajian pemetaan spasial dapat digunakan untuk mengidentifikasi kawasan terdampak, habitat yang masih tersisa, jalur pergerakan orangutan, serta titik konektivitas yang terputus. Peta tersebut tidak seharusnya berhenti menjadi data di layar, melainkan menjadi dasar untuk menentukan tindakan di lapangan.
Pada lokasi tertentu, canopy bridge atau jembatan kanopi dapat menjadi jalur sementara untuk membantu orangutan melintasi bagian hutan yang terputus. Namun, tidak boleh menganggap jembatan buatan dapat menggantikan fungsi hutan alami. Canopy bridge memberi waktu dan ruang bagi orangutan untuk bertahan, sementara restorasi vegetasi, penanaman pohon pakan, dan pemulihan koridor tetap harus menjadi tujuan jangka panjang.
Lebih dari itu, keberhasilan seluruh upaya tersebut bergantung pada kolaborasi. Pemerintah, masyarakat lokal, peneliti, organisasi konservasi, serta dunia usaha perlu bergerak dengan tujuan yang sama, yaitu memastikan hutan tidak semakin terfragmentasi dan Orangutan Tapanuli tetap memiliki ruang untuk hidup.
Hutan mereka, masa depan kita semua
Pascabencana, pilihan ada pada kita semua, membiarkan luka Hutan Batang Toru semakin dalam atau menjadikannya momentum untuk memperbaiki cara kita menjaga alam. Menyelamatkan orangutan Tapanuli bukan hanya tentang mempertahankan satu spesies yang langka. Ketika orangutan tetap memiliki ruang hidup dan hutannya pulih kembali, sumber air, keseimbangan ekosistem, serta kehidupan masyarakat juga tetap terjaga. Hutan mereka adalah masa depan kita semua. Menjaga Orangutan berarti menjaga hutan, dan menjaga hutan berarti menjaga kehidupan kita bersama.
© 2025 All Right Reserved