
Di bawah ancaman perubahan iklim dan risiko bencana pesisir yang kian nyata, ekosistem mangrove di Indonesia, yang merupakan rumah bagi sekitar 23% dari total mangrove dunia, berada di garis depan krisis global sekaligus solusi.
Data dari Wetlands International dan sumber internasional lainnya menegaskan bahwa Indonesia, meskipun memegang area mangrove terluas, menghadapi laju kehilangan yang signifikan, terutama akibat konversi lahan menjadi tambak, menunjukkan urgensi besar dalam upaya konservasi dan rehabilitasi.
Sayangnya, upaya restorasi selama ini sering kali terhambat oleh ketiadaan data geospasial yang terintegrasi, terbuka, dan andal untuk memonitor kemajuan secara efektif, melaporkan dampak, serta mendukung pengambilan keputusan yang akurat.
Kesenjangan informasi inilah yang coba dijembatani oleh inisiatif bernama Map4Mangrove, sebuah proyek pemetaan kolaboratif yang didorong oleh teknologi sumber terbuka. Proyek ini dipimpin oleh Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) melalui Open Mapping Hub – Asia Pacific (AP Hub), dan menjadi studi kasus penting tentang bagaimana data kolektif berbasis komunitas dapat menjadi tulang punggung ketahanan iklim.
Map4Mangrove secara spesifik berfokus untuk mendukung program Blue Carbon yang diimplementasikan oleh Yayasan Lestari Alam Kita (SALAKA), melalui dukungan pendanaan dari Yayasan Keanekaragaman Hayati (Yayasan KEHATI) dan PT Asahimas Chemical.
Lokasinya di kawasan pesisir rawan bencana di Kabupaten Pandeglang, Banten, Indonesia. Kawasan ini, khususnya di Subdistrik Sumur dan Panimbang, pernah diterjang tsunami pada tahun 2018, sehingga kebutuhan akan data yang kuat untuk mitigasi bencana menjadi sangat mendesak.
Dalam laporan resmi yang dirilis oleh Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT) di laman proyeknya, ditekankan bahwa Map4Mangrove dibangun di atas prinsip pemetaan terbuka yang partisipatif. Ini bukan sekadar proyek pemetaan oleh para ahli GIS, melainkan sebuah ekosistem yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari mitra lokal seperti KEHATI dan SALAKA, pemerintah daerah Pandeglang, hingga perwakilan masyarakat setempat dan mahasiswa universitas, seperti yang terlibat dalam kegiatan pemetaan lapangan pada Juli 2025. Pendekatan ini memastikan bahwa sistem pemantauan yang dihasilkan memiliki kepemilikan lokal dan relevan dengan konteks serta kebutuhan komunitas di lapangan, sebuah kunci untuk keberlanjutan jangka panjang.
Metode kerja Map4Mangrove adalah perpaduan antara pemetaan jarak jauh (remote mapping) dan survei langsung di lapangan, memanfaatkan kekuatan teknologi geospasial yang tersedia secara terbuka. Tim proyek, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Harry Mahardhika Machmud dari AP Hub, menggunakan berbagai alat Open Mapping.
Untuk pemetaan jarak jauh, mereka mengumpulkan data dasar seperti bangunan dan jalan di sekitar lokasi proyek, yang nantinya krusial untuk analisis risiko bencana. Sementara itu, untuk data yang lebih mendalam, pemetaan lapangan dilakukan menggunakan aplikasi seperti HOT Field Tasking Manager dan KoboCollect untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif secara real-time.
Data yang dikumpulkan tidak hanya mencakup spesies mangrove, kondisi pertumbuhan, dan tingkat degradasi, tetapi juga informasi penting lainnya seperti aksesibilitas lokasi, administrasi lahan, data pasang surut, hingga profil sosio-ekonomi desa.
Selain itu, penggunaan citra tingkat jalan melalui Mapillary dan pemetaan udara menggunakan drone memberikan resolusi spasial tinggi yang dibutuhkan untuk validasi dan analisis akurat.
Produk utama dari upaya kolaboratif ini adalah sebuah dashboard digital interaktif yang terpusat dan mudah diakses. Dashboard ini memvisualisasikan data krusial yang digunakan oleh pemangku kepentingan untuk berbagai tujuan:
Pertama, untuk pemantauan kemajuan rehabilitasi Program Blue Carbon, termasuk status hukum lahan, jumlah bibit yang ditanam, dan teknik penanaman yang digunakan.
Kedua, untuk pelaporan dampak secara intuitif, menampilkan narasi berbasis data mengenai progres ekologis dan hasil sosio-ekonomi program sejak diluncurkan pada tahun 2021.
Ketiga, yang paling penting, data ini digunakan untuk analisis risiko bencana, seperti memvisualisasikan zona banjir pesisir yang diproyeksikan dalam sepuluh tahun ke depan, memberikan panduan vital bagi Pemerintah Kabupaten Pandeglang dalam strategi konservasi dan rencana tata ruang mereka.
HOT OSM berharap inisiatif ini dapat menjadi pintu masuk bagi lebih banyak organisasi konservasi dan keanekaragaman hayati untuk mengadopsi pendekatan pemetaan terbuka yang didorong oleh komunitas, mengarahkan pada pemantauan yang lebih efektif dan terarah.
Secara global, proyek Map4Mangrove sejalan dengan inisiatif yang lebih besar seperti Mangrove Breakthrough, sebuah seruan aksi global berbasis sains yang bertujuan mengurangi kehilangan mangrove bersih yang didorong oleh manusia menjadi nol dan melindungi 80% mangrove yang tersisa secara jangka panjang, seperti dilaporkan oleh Wetlands International pada April 2025.
Dengan 60% populasi Indonesia tinggal di wilayah pesisir yang bergantung pada ekosistem ini, perlindungan mangrove adalah tanggung jawab bersama yang mendukung mata pencaharian, perlindungan pantai, serta keamanan pangan dan sosial.
Upaya pemetaan kolaboratif seperti Map4Mangrove menjadi model replikatif yang menunjukkan bahwa kemitraan efektif, melibatkan teknologi internasional dan pengetahuan lokal, dapat menjembatani kesenjangan data dan mendukung komitmen Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim dan adaptasi bencana secara terukur dan berkelanjutan
© 2025 All Right Reserved