
Oleh: Wawan Sujarwo
Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Ekologi
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Pada 23 Mei 2026 lalu, saya mendapat kehormatan menjadi salah satu pembicara dalam Samsara Bamboo Festival di Karangasem, Bali. Di hadapan para pegiat budaya, akademisi, dan generasi muda, saya menyampaikan topik "Bambu dalam Dimensi Sosial". Saat menyusun materi, saya menyadari bahwa cerita yang saya bawakan adalah refleksi dari dua dunia yang saya huni: masa kecil saya di Jawa Tengah — di mana bambu adalah urat nadi kehidupan desa — dan hampir dua dekade saya tinggal di Bali, di mana saya menyaksikan bambu perlahan kehilangan peran sosialnya.
Tulisan ini adalah upaya menyambungkan dua pengalaman itu, sekaligus mengajak kita semua menghidupkan kembali bambu sebagai perekat sosial yang nyaris putus.
Bambu Dulu adalah Urat Nadi Kehidupan
Saya masih ingat, di desa saya di Jawa Tengah, bambu hadir di setiap fase kehidupan. Ketika tetangga membangun rumah, bukan kontraktor yang datang pertama, melainkan para tetangga dengan parang dan tali bambu. Mereka bekerja tanpa hitungan uang. Upahnya adalah tawa dan makan bersama setelah senja.
Di Bali, saya menemukan hal yang sama, bahkan lebih intens. Bambu mengiringi orang Bali dari lahir hingga mati. Saat bayi lahir, ari-ari dibungkus ketipat (anyaman bambu berbentuk ketupat). Saat mesangih (upacara potong gigi dalam tradisi Hindu Bali), sarana upacaranya menggunakan wadah bambu. Saat ngaben (upacara kremasi), bade (menara atau wadah jenazah) yang megah itu seluruhnya dari bambu — ratusan bilah diikat oleh puluhan tangan. Setiap hari ke pura, umat membawa gebogan (sesajen berbentuk tumpeng yang dianyam dari bambu dan janur).
Bambu juga menjadi jaminan sosial. Dalam penelitian saya bersama tim di beberapa desa di Bali, kami menemukan fakta menarik: dulu ada aturan adat tidak tertulis yang mewajibkan setiap kepala keluarga menanam lima rumpun bambu di tegal (ladang/kebun kering) atau tepi sungai. Bukan untuk dijual, melainkan untuk stok sosial. Jika ada yang meninggal, ada bambu untuk bade. Jika ada yang menikah, ada bambu untuk dekorasi. Jika ada rumah yang longsor, ada bambu untuk bangunan darurat.
Bambu adalah asuransi kehidupan orang Bali — dan asuransi itu tidak pakai premi uang, melainkan premi kerja sama dan ngayah (gotong royong dalam tradisi Bali).
Namun, Hari Ini Bambu Mulai Hilang dari Kehidupan Sosial Kita
Pariwisata naik. Ekonomi bergerak. Vila-vila mewah berdiri di tebing-tebing. Itu baik untuk pendapatan daerah, tetapi mari kita lihat lebih dekat.
Di mana para penganyam bambu sekarang? Banyak dari mereka kini berjualan cendera mata di tempat wisata. Di mana rindik (alat musik bambu tradisional Bali) dimainkan? Sebagian besar hanya menjadi background music di hotel-hotel berbintang bagi turis yang tidak tahu bahwa rindik dulu adalah bahasa komunikasi antar petani.
Saya berbincang dengan warga salah satu desa di Bali. Ia berkata: "Sekarang kalau ada warga meninggal, kami bingung cari bambu untuk bade. Lahan bambu sudah jadi vila. Kalau pun ada, kami harus beli. Dulu bambu adalah hadiah alam. Sekarang bambu jadi komoditas."
Yang juga perlu mendapat perhatian kita adalah bagaimana persepsi generasi muda terhadap bambu. Dalam survei kecil yang kami lakukan terhadap sekitar 100 remaja di beberapa desa di Bali, hanya sekitar 30 persen yang bisa membuat anyaman bambu sederhana — itu pun diajari orang tua atau neneknya. Hanya 20 persen yang pernah ikut megibung (makan bersama dalam satu wadah dalam tradisi Bali) dengan piring bambu. Sebanyak 60 persen dari mereka mengaku lebih memilih bahan plastik atau logam karena dianggap lebih praktis.
Ini bukan kesalahan generasi muda. Ini adalah cermin bahwa kita sebagai orang tua, pendidik, dan pemangku adat belum cukup berhasil menurunkan cerita dan kebanggaan tentang bambu kepada mereka. Bambu tidak ketinggalan zaman. Kitalah yang belum cukup kreatif menyajikan bambu agar terlihat relevan dan menarik di mata anak muda kita.
Data Ilmiah Menguatkan Kekhawatiran Kita
Riset yang saya terbitkan di jurnal Reinwardtia (2018) mencatat bahwa Kebun Raya Bali telah mengoleksi 52 spesies bambu dari 11 genera. Dari jumlah itu, enam spesies di antaranya adalah bambu endemik Bali, seperti Gigantochloa baliana dan Dinochloa sepang. Artinya, Bali memiliki kekayaan bambu yang luar biasa.
Namun, kekayaan itu terancam. Di Penglipuran, salah satu desa tradisional Bali yang masih mempertahankan atap dari bilah bambu, luas hutan bambu masyarakat berkisar antara 40 hingga 50 hektare. Hutan ini dijaga turun-temurun karena masyarakat percaya bahwa bambu mampu menciptakan mata air baru. Studi kami membuktikan bahwa bambu dapat menyerap hingga 90 persen air hujan, jauh lebih tinggi daripada pohon biasa yang hanya 35–40 persen.
Sayangnya, kesadaran ekologis ini belum diimbangi dengan kesadaran sosial. Bambu terus ditebang, lahan bambu beralih fungsi, dan regenerasi sosialnya terancam terputus.
Apa Dampaknya Jika Kita Terus Membiarkan?
Jika kita terus membiarkan bambu kehilangan peran sosialnya, kita akan kehilangan lebih dari sekadar tumbuhan.
Kita akan kehilangan gotong royong. Kita akan kehilangan identitas budaya. Kita akan kehilangan ruang bersama yang selama berabad-abad diikat oleh bambu. Generasi muda akan tumbuh tanpa pernah merasakan dinginnya duduk di lincak (tempat duduk dari bambu) sambil megibung. Mereka akan kehilangan cerita, dan ketika cerita hilang, hilang pula kebanggaan sebagai bagian dari masyarakat yang kaya budaya.
Saya menyaksikan di berbagai belahan dunia, bambu justru menjadi jalan keluar bagi krisis sosial. Di Jepang, gerakan Take-zai mempertemukan lansia dan pemuda dalam kafe bambu. Di Kolombia, mantan kombatan dan warga desa membangun rumah bambu bersama sebagai jalan rekonsiliasi. Di Filipina, anak-anak Muslim dan Kristen belajar bersama di sekolah berdinding bambu — dinding yang mengajarkan bahwa perbedaan tidak perlu dipisahkan.
Di Ethiopia, suku Oromo dan Somali yang puluhan tahun berselisih kini duduk bersama di bawah rumpun bambu untuk menghitung hasil anyaman yang akan dijual. Bambu menjadi satu-satunya hal yang tidak perlu mereka perebutkan.
Pengalaman dari berbagai negeri itu mengajarkan kita bahwa bambu memiliki kekuatan luar biasa untuk mengikat manusia lintas perbedaan. Kita di Indonesia, khususnya Bali yang kaya akan tradisi gotong royong, sebenarnya memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk melakukan hal serupa, bahkan lebih baik.
Tiga Gagasan untuk Menghidupkan Kembali Bambu
Saya mengajukan tiga gagasan sederhana, bukan kebijakan besar, tetapi ajakan kolektif.
Pertama, hidupkan kembali ngayah (gotong royong) bambu di setiap banjar (rukun warga). Tidak perlu besar-besaran. Cukup satu kali sebulan, warga berkumpul membuat peralatan bambu untuk keperluan desa. Anak-anak muda diajak. Biarkan mereka merasakan bahwa bambu itu seru dan membanggakan.
Kedua, setiap desa wisata di Bali yang menggunakan bambu untuk fasilitasnya — restoran, homestay, galeri — dorong untuk melibatkan penganyam lokal, bukan mengimpor bambu olahan dari luar. Dengan begitu, bambu menjadi mesin ekonomi kerakyatan.
Ketiga, dorong regulasi desa adat yang mewajibkan penanaman bambu di lahan kritis. Seperti dulu: lima rumpun per kepala keluarga. Bukan proyek pemerintah, melainkan gerakan moral. Karena bambu adalah warisan, bukan beban.
Penutup: Bambu adalah Warisan yang Menunggu untuk Dihidupkan Kembali
Saya ingat masa kecil di Jawa, ketika warga desa bergotong royong membangun pos ronda dari bambu hanya dalam dua hari. Saya juga menyaksikan di Bali, jegog (alat musik bambu raksasa khas Jembrana) — kini viral di media sosial dan diundang ke festival internasional. Bambu tidak kuno. Bambu bisa menjadi kebanggaan, asal kita mau menurunkan cerita dan mengajak generasi muda.
Bambu tidak pernah meminta banyak. Ia tumbuh di pinggir kali, di tebing curam, di lahan yang tak terpakai. Namun, yang ia beri kepada kita adalah ikatan sosial. Dan ikatan itu sekarang renggang. Mari kita kencangkan kembali.
Mulai dari desa kita, mulai dari hari ini, mulai dari setiap rumpun bambu yang kita tanam bersama.
© 2025 All Right Reserved